You are currently viewing Alasan Teori Utama dalam Skripsi Bisa Membenturkan Hasil

Alasan Teori Utama dalam Skripsi Bisa Membenturkan Hasil

Sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam konteks penulisan skripsi, sering kali menekankan pentingnya penggunaan teori utama sebagai landasan penelitian. Mahasiswa diharapkan untuk menemukan dan mengaplikasikan teori-teori yang diakui secara akademis dalam skripsi mereka. Meskipun pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa penelitian memiliki dasar ilmiah yang kuat, namun ini bisa menimbulkan konsekuensi buruk di beberapa kasus.

Namun, ketika bertemu dengan batasan penggunaannya, maka fleksibilitas dan kreativitas dalam penelitian menjadi terhambat, sehingga dapat mengurangi validitas dan relevansi hasil penelitian.

Sebelum membahas mengenai kasus dimana hasil penelitian (skripsi) dapat terbentur jika memakai teori utama, mari kita bahas terlebih dahulu kegunaan teori utama tersebut.

 

Penggunaan Teori Utama

Pentingnya Teori Utama dalam Penulisan Skripsi

Teori utama biasanya digunakan dalam penulisan skripsi untuk memberikan kerangka kerja yang kuat dan ilmiah. Teori ini membantu peneliti untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi fenomena yang sedang diteliti. Misalnya, dalam penelitian tentang perilaku manusia, teori pengendalian diri dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana individu mengelola dorongan dan menunda kepuasan.

Keterbatasan Teori Utama

Namun, ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan:

  1. Relevansi Teori: Tidak semua topik penelitian memiliki teori utama yang langsung relevan. Dalam beberapa kasus, teori yang tersedia mungkin berasal dari disiplin ilmu yang berbeda dan tidak sepenuhnya cocok dengan topik yang diteliti.
  2. Fleksibilitas Penelitian: Memaksakan penggunaan teori yang tidak relevan dapat menghambat fleksibilitas dan kreativitas dalam penelitian. Peneliti mungkin merasa terjebak dalam kerangka kerja yang tidak sesuai, sehingga mengurangi efektivitas dan validitas penelitian.
  3. Evolusi Ilmu Pengetahuan: Teori yang ada saat ini mungkin tidak selalu cukup untuk menjelaskan fenomena baru. Sebagai contoh, teori Newton tidak mampu menjelaskan orbit Merkurius dengan tepat, yang kemudian mendorong pengembangan teori relativitas oleh Einstein.

 

Solusi Selain Memakai Teori Utama

Pendekatan Alternatif

Untuk mengatasi keterbatasan yang telah kami uraikan diatas, peneliti dapat mempertimbangkan beberapa pendekatan alternatif ini:

  1. Kerangka Konseptual: Gunakan konsep dan definisi yang relevan untuk membentuk dasar penelitian. Kerangka konseptual memungkinkan peneliti untuk fokus pada variabel dan hubungan yang paling relevan dengan topik yang diteliti.
  2. Studi Empiris dan Praktik Terbaik: Kumpulkan dan analisis data dari studi lapangan atau penelitian empiris yang relevan. Pengalaman praktis dari para ahli juga dapat memberikan wawasan yang berharga.
  3. Pendekatan Multidisipliner: Menggabungkan konsep dari berbagai disiplin ilmu dapat membuka perspektif baru dan membantu peneliti untuk mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang topik yang diteliti.

Contoh Kasus: Penelitian Memancing

Sebagai contoh, jika penelitian Anda adalah tentang “cara mendapatkan banyak ikan ketika memancing,” mungkin sulit untuk menemukan teori utama yang langsung relevan. Namun, Anda masih bisa membangun kerangka penelitian yang kuat dengan menggabungkan konsep dari biologi ikan, ekologi, dan teknik memancing praktis.

 

Kasus dimana teori utama gagal memberikan solusi

Sekitar pada tahun 1905, teori utama yang tersedia kala itu, yang bisa dipakai untuk mengukur gravitasi adalah teori dari newton. Teori ini dapat digunakan untuk menghitung gerakan planet dengan akurasi yang cukup baik dalam banyak kasus. Namun, ada beberapa anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh teori ini:

  1. Orbit Merkurius: Salah satu fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh teori gravitasi Newton adalah presesi perihelion orbit Merkurius. Pengamatan menunjukkan bahwa titik terdekat Merkurius ke Matahari (perihelion) bergerak lebih cepat daripada yang diprediksi oleh teori Newton. Hal ini menjadi salah satu masalah besar dalam astronomi abad ke-19.
  2. Planet Lain: Meskipun teori Newton bekerja dengan baik untuk sebagian besar planet di tata surya, ketidakcocokan kecil masih ada dalam prediksi orbit mereka. Namun, perbedaan ini tidak sebesar anomali yang ditemukan pada orbit Merkurius.

Disini, Anda bisa melihat sebuah gambaran besar yang jelas dan sahih, bahwa jika kita terpaku harus memakai teori utama dalam penelitian yang kita lakukan, hasil nya bisa menjadi tidak valid.

Tidak semua teori utama selalu tepat atau memadai untuk menjelaskan semua fenomena, dan ada saat-saat dalam sejarah ilmu pengetahuan ketika teori yang ada tidak mampu menjelaskan pengamatan tertentu. Contoh yang disebutkan diatas, yaitu mengenai kegagalan teori Newton dalam menjelaskan orbit Merkurius, adalah sebuah ilustrasi yang menggambarkan bahwa bahkan teori yang terbukti berhasil dalam banyak kasus masih dapat gagal dalam menjelaskan fenomena tertentu dengan akurat.

Berikut adalah beberapa poin yang perlu dipertimbangkan:

Keterbatasan Teori yang Ada

  • Teori Tidak Selalu Universal: Teori ilmiah sering memiliki batasan dalam ruang lingkup penerapannya. Newtonian mechanics bekerja sangat baik untuk sebagian besar fenomena di bumi dan tata surya, tetapi gagal pada skala yang sangat besar atau sangat kecil di mana relativitas atau mekanika kuantum lebih relevan.
  • Keterbatasan Empiris: Setiap teori ilmiah didasarkan pada pengamatan dan data yang tersedia pada saat itu. Ketika data baru muncul yang tidak bisa dijelaskan oleh teori yang ada, ini menunjukkan batasan teori tersebut.

2. Evolusi Ilmu Pengetahuan

  • Progresi Ilmiah: Ilmu pengetahuan berkembang melalui pengumpulan data, pengujian teori, dan pengembangan teori baru ketika teori yang ada tidak memadai. Kegagalan teori Newton untuk menjelaskan orbit Merkurius adalah salah satu pendorong untuk perkembangan teori relativitas umum oleh Einstein.
  • Falsifiabilitas: Konsep falsifiabilitas oleh Karl Popper menekankan bahwa teori ilmiah harus bisa diuji dan berpotensi disangkal oleh bukti empiris. Ketika teori gagal menjelaskan fenomena tertentu, ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan teori yang lebih baik.

3. Pendekatan Alternatif dalam Penelitian

  • Penggunaan Konsep dan Model Praktis: Dalam situasi di mana teori utama tidak memadai atau tidak relevan, peneliti dapat menggunakan model praktis, konsep-konsep empiris, atau pendekatan interdisipliner untuk menjelaskan fenomena yang diamati.
  • Kerangka Konseptual yang Fleksibel: Kerangka konseptual dapat disusun berdasarkan pemahaman dan data yang ada, tanpa harus bergantung pada satu teori utama. Ini memungkinkan peneliti untuk mengembangkan pemahaman yang lebih tepat tentang topik yang sedang diteliti.

4. Contoh Penerapan dalam Penelitian Praktis

  • Penelitian Tanpa Teori Utama yang Jelas: Misalnya, ketika Anda membuat penelitian mengenai “Cara mendapatkan banyak ikan ketika memancing”, Anda mungkin tidak menemukan teori utama yang langsung relevan. Namun, Anda dapat membangun kerangka kerja berdasarkan data empiris, praktik terbaik dari para pemancing berpengalaman, dan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu yang relevan.
  • Pengembangan Teori Baru: Kadang-kadang, penelitian dapat berkontribusi pada pengembangan teori baru yang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh teori yang ada.

Kesimpulan

Meskipun teori utama sering kali memberikan dasar yang kuat untuk penelitian, mereka tidak selalu memadai atau relevan untuk setiap situasi. Penting bagi peneliti untuk fleksibel dan kreatif dalam pendekatan mereka, menggunakan data empiris, konsep-konsep yang relevan, dan model praktis ketika teori yang ada tidak cukup. Ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan setiap penelitian memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih baik dan mungkin pengembangan teori baru yang lebih sesuai dengan fenomena yang diamati.

 

Sistem Pendidikan di Indonesia dan Penekanan pada Teori Utama

Sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam konteks penulisan skripsi, sering kali menekankan pentingnya penggunaan teori utama sebagai landasan penelitian. Mahasiswa diharapkan untuk menemukan dan mengaplikasikan teori-teori yang diakui secara akademis dalam skripsi mereka. Meskipun pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa penelitian memiliki dasar ilmiah yang kuat, ada beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan:

  1. Kesulitan dalam Menemukan Teori yang Relevan: Dalam beberapa kasus, topik penelitian yang sangat spesifik atau praktis mungkin tidak memiliki teori utama yang langsung relevan. Mahasiswa sering kali mengalami kesulitan dalam menemukan teori yang sesuai, yang dapat menghambat progres penelitian mereka.
  2. Pemaksaan Teori yang Tidak Relevan: Untuk memenuhi persyaratan akademis, mahasiswa mungkin merasa terpaksa menggunakan teori yang tidak sepenuhnya relevan dengan topik penelitian mereka. Hal ini dapat mengakibatkan kerangka penelitian yang tidak cocok dan mengurangi validitas serta relevansi hasil penelitian.
  3. Kehilangan Fokus pada Aspek Praktis: Penekanan yang berlebihan pada teori utama dapat membuat mahasiswa kehilangan fokus pada aspek-aspek praktis dan empiris dari penelitian mereka. Dalam beberapa kasus, penelitian yang berfokus pada data empiris dan pengalaman praktis bisa lebih bermanfaat dan aplikatif dibandingkan penelitian yang hanya berusaha mencocokkan teori yang tidak relevan.
  4. Inovasi Terhambat: Ketika mahasiswa terlalu fokus pada mencari teori yang cocok, inovasi dan kreativitas dalam penelitian bisa terhambat. Mahasiswa mungkin menjadi terlalu terpaku pada kerangka teori yang ada, sehingga mengabaikan pendekatan-pendekatan baru yang bisa lebih efektif dalam menjawab pertanyaan penelitian.

Dampak pada Hasil Penelitian

Penekanan yang kuat pada penggunaan teori utama dalam sistem pendidikan di Indonesia bisa berakibat pada hasil penelitian yang kurang memadai atau tidak sesuai dengan tujuan awal penelitian. Ketika teori yang digunakan tidak relevan atau dipaksakan, hasil penelitian mungkin tidak memberikan wawasan yang mendalam atau aplikatif. Ini dapat mengurangi kontribusi penelitian terhadap pengetahuan ilmiah dan praktik di lapangan.

Dalam contoh penelitian seperti “Cara mendapatkan banyak iklan ketika memancing”, peneliti yang diharuskan mencari teori terkait, mungkin bisa mendapatkan teori seperti: teori habitat ikan atau teori optimalisasi perilaku. Namun, dua hal itu tidak berhubungan erat dengan penelitian yang dilakukan.

Keharusan untuk mencari teori terkait, dalam melakukan penelitian seperti ini, terlalu membuang waktu. Karena, mencari sebuah teori itu tidak mudah dilakukan.

Dalam memberikan contoh diatas, kami bahkan baru tahu, ada teori bernama; teori habitat. Bayangkan, untuk membuat penelitian seperti ini, seseorang perlu melewati berbagai macam kesulitan, yang mana ketika diimplementasikan, tidak akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap hasil penelitian.

Solusi yang Dapat Dipertimbangkan

Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:

  • Peningkatan Fleksibilitas Akademis: Memberikan lebih banyak fleksibilitas kepada mahasiswa untuk menggunakan kerangka konseptual yang relevan dan data empiris tanpa harus memaksakan teori utama yang tidak relevan.
  • Pendekatan Interdisipliner: Mendorong mahasiswa untuk menggabungkan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu yang relevan dengan topik penelitian mereka.
  • Penekanan pada Penelitian Praktis: Menghargai penelitian yang berfokus pada solusi praktis dan aplikatif, serta pengalaman lapangan yang dapat memberikan kontribusi nyata terhadap praktik di bidang terkait.

Dengan memahami dan mengatasi batasan ini, sistem pendidikan di Indonesia bisa membantu mahasiswa menghasilkan penelitian yang lebih relevan, valid, dan bermanfaat, baik dari segi akademis maupun praktis.

0 0 votes
Berikan Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments